Kamis , 31 Mar 2022 15:57:38
Kanker Paru pada Usia Muda dan Non-Perokok di Indonesia


Penyakit kanker paru-paru masih menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak akibat kanker di Indonesia. Meski identik dengan pasien yang sudah lanjut usia, kini semakin banyak pasien kanker paru yang berusia di bawah 60 tahun. Bahkan, beberapa ada yang mulai mengalaminya di umur 40-an.

Prevalensi kanker paru di Indonesia

Data dari Globocan oleh WHO menunjukkan, penambahan kasus kanker paru di Indonesia menempati urutan ke-4 sebagai yang terbanyak. Di tahun 2020, jumlah kejadian kanker paru mengalami kenaikan sebanyak 8,8% atau sekitar 34,783 kasus.

Jumlah kematiannya pun cukup mengkhawatirkan. Terhitung pada tahun yang sama, jumlah kasus kematian akibat kanker paru meningkat sampai 18 persen.

Memang, meningkatnya kasus kanker paru menandakan semakin banyak kasus yang terdeteksi dan orang-orang sudah mulai waspada dengan keberadaan penyakit ini. Namun, ini juga bisa menunjukan tingginya tingkat konsumsi rokok sebagai salah satu penyebab utama kanker paru di Indonesia.

Rokok sebagai penyebab utama kanker paru

Hingga kini, rokok masih menjadi faktor risiko terbesar yang menyebabkan penyakit kanker paru.

Melepas kebiasaan merokok memang sulit dijalani, apalagi jika Anda merokok selama bertahun-tahun. Hal ini karena kandungan nikotin dalam rokok mendorong otak memproduksi hormon dopamin yang memberikan rasa nyaman dan pada akhirnya membuat perokok jadi kecanduan.

Banyak orang yang sulit berhenti merokok karena sudah menganggap rokok sebagai pelepas stres atau pemicu energi di kala bekerja saat malam hari agar bisa terus konsentrasi.

Padahal seperti yang telah banyak diketahui, paparan asap rokok dalam jangka waktu panjang dapat menyebabkan kerusakan pada paru dan memicu pertumbuhan sel yang salah dalam paru yang kemudian bisa berkembang menjadi kanker.

Rokok mengandung banyak zat karsinogen yang menyebabkan kanker. Ketika Anda menghirup asapnya, maka zat ini juga akan masuk ke paru-paru dan merusak sel-sel yang ada di dalamnya.

Pada awalnya tubuh Anda masih bisa memperbaiki kerusakan akibat paparan karsinogen tersebut. Namun seiring waktu, sel-sel normal yang melapisi paru-paru semakin rusak. Pada akhirnya, sel mulai berkembang secara tidak normal dan menumbuhkan kanker.

Efeknya memang tidak terjadi semalaman, tetapi mutasi bisa terjadi secara bertahap selama 15-20 tahun kedepan.

Kanker paru di usia muda dan non-perokok

Dahulu, penyakit kanker paru-paru lebih banyak ditemukan pada pasien yang telah berusia di atas 60 tahun. Namun kini, kanker paru mulai sering ditemukan pada pasien yang masih berada di usia muda seperti 40-an.

Ketika ditemui oleh tim Hello Sehat, dr. Mariska TG Pangaribuan, Sp.P, selaku dokter spesialis paru di RS Dharmais di Jakarta, disebabkan oleh banyak anak-anak yang mulai merokok di usia yang lebih muda. Kondisi ini terjadi karena minimnya aturan mengenai batasan umur untuk membeli rokok.

Selain itu, rokok juga bisa dibeli satuan dengan harga yang cukup terjangkau sehingga hampir semua kalangan, termasuk anak remaja dan usia sekolah, bisa membelinya. Karena kemudahan akses untuk mendapatkan rokok ini maka tak heran jika banyak ditemukan anak-anak SD yang sudah mulai merokok.

Hal ini tentu menjadi kekhawatiran tersendiri. Semakin muda seseorang mulai merokok, maka semakin cepat juga kemungkinan risikonya terkena kanker paru.

“Mutasi sel yang bisa menyebabkan kanker biasanya terjadi dalam kurun 15-20 tahun. Jika Anda merokok mulai usia 20 tahun atau bahkan 15 tahun, mutasi sel dalam tubuh yang memicu tumbuhnya sel abnormal penyebab kanker akan timbul di usia 40an tahun atau lebih muda.” tambah dr. Mariska.

Tidak hanya perokok aktif, risiko kanker paru juga menghantui para perokok pasif. Perokok pasif sendiri terbagi lagi menjadi second-hand smoker dan third-hand smoker.

Pada kasus second hand smoker, risiko tetap dapat meningkat ketika terus-terusan terpapar dengan asap rokok di lingkungan sekitar. Sedangkan orang-orang yang menjadi thirdhand smoker adalah mereka yang menghisap residu rokok dari lingkungan meski tak terpapar secara langsung.

Misalnya, pasangan Anda merokok di luar ruangan atau tempat yang terpisah. Ketika kembali ke rumah, ia langsung memeluk atau berdekatan dengan Anda. Memang, Anda tidak terpapar asap rokok tersebut, tetapi partikel-partikel rokok yang masih menempel di baju pasangan Anda juga bisa terhirup ke dalam tubuh.

Perempuan di Asia lebih berisiko terhadap kanker paru

Selain rokok, ada pula faktor-faktor penyebab kanker paru lainnya yang membuat seseorang lebih rentan terhadap penyakit ini. Baru-baru ini ditemukan bahwa perempuan di benua Asia, khususnya Asia Pasifik, memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kanker paru.

Kemungkinannya, hal ini disebabkan oleh adanya mutasi EGFR yang positif. EGFR (epidermal growth factor receptor) adalah komponen di permukaan sel yang berfungsi untuk menerima protein dan mengatur pertumbuhan sel. Ketika gen EGFR bermutasi, maka sel akan tumbuh di luar kendali dan menyebabkan perkembangan tumor atau kanker.

Perlu diketahui, kebanyakan kasus kanker paru yang terjadi di Asia adalah jenis kanker paru non sel kecil. Lebih dari setengah kasus kanker ini disebabkan oleh mutasi EGFR.

Mutasi EGFR lebih umum ditemukan pada perempuan non perokok yang berusia muda di benua Asia. Di Indonesia sendiri, persentasenya bisa mencapai 40-60 persen. Jumlah ini lebih banyak daripada perempuan yang mutasi EGFR-nya positif di benua Eropa dengan persentase 16-20 persen.

Meski demikian, Dr. Mariska menyatakan perawatan untuk menangani mutasi EGFR pada non perokok terutama bila penyakitnya ditemukan lebih awal hasilnya akan lebih baik dan dapat menambah harapan hidup.

Lakukan deteksi dini untuk kanker paru

Deteksi dini kanker paru memang cukup sulit dilakukan. Hal ini disebabkan gejala yang ditimbulkan kerap tidak terasa sehingga menyebabkan keterlambatan diagnosis kanker paru.

Akan tetapi penyebaran sel kanker pada kasus kanker paru bisa terjadi sangat cepat. “Banyak pasien yang saya tangani baru berobat ke rumah sakit ketika kanker sudah berada di stadium 3 atau 4.” ujar Dr. Mariska.

Bila sudah terjadi, tentunya hal ini bisa berakibat fatal. Kualitas hidup pun jadi menurun drastis, beraktivitas pun semakin sulit. Hidup harus bergantung pada tabung oksigen.

Maka dari itu, dr. Mariska menekankan pada masyarakat untuk segera melakukan deteksi dini dengan menjalani low dose CT scan menggunakan dosis radiasi yang lebih kecil.

Tes ini bisa menunjukkan gambaran yang lebih jelas mengenai organ paru Anda. Dari sini, dokter bisa mendeteksi adanya sel kanker berukuran kecil dan langsung merencanakan perawatan untuk Anda. Bila penyakit langsung ditangani pada stadium awal, lebih tinggi kemungkinannya untuk mencapai kesembuhan.

Deteksi dini sangat penting dilakukan khususnya untuk golongan yang berisiko seperti orang-orang berusia di atas 45 tahun, memiliki riwayat penyakit paru di keluarga, dan merupakan perokok berat.

Apa yang bisa dilakukan untuk mencegah kanker paru?

Selain menjauhi rokok, Dr. Mariska menghimbau masyarakat untuk menjalani pola hidup sehat seperti makan makanan yang bergizi, tidur yang teratur, istirahat yang cukup, menghindari stres, dan olahraga rutin.

Dr. Mariska juga berharap edukasi untuk tidak merokok sudah digencarkan sejak masa kanak-kanak, dari sekolah dasar maupun sekolah menengah pertama. Ini dilaksanakan guna mencegah risiko kanker paru pada usia muda.